image-accent

Daily Views

content accent Download PDF

Bursa Hari Ini

Tuesday , 17 Mar 2026 07:34

Global Update

Bursa saham AS di Wall Street menguat pada perdagangan Senin setelah beberapa pekan tertekan. Dow Jones Industrial Average naik 0,83%, S&P 500 naik 1,01%, dan Nasdaq Composite menguat 1,22%. Kenaikan didorong oleh saham teknologi seperti Meta Platforms dan Nvidia. Di sisi lain, harga minyak sempat melonjak di atas US$100 per barel akibat ketegangan perang yang mengganggu jalur pelayaran di Strait of Hormuz. Namun harga kemudian turun setelah pemerintah AS mengizinkan tanker minyak Iran melintas dan mempertimbangkan pembentukan koalisi untuk mengamankan jalur tersebut. Meski konflik dengan Iran masih berlangsung dan memicu ketidakpastian, tekanan terhadap pasar saham relatif terbatas. Sementara itu, perhatian global tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve System serta perkembangan perang di Timur Tengah yang mempengaruhi harga energi dan inflasi dunia. Data ekonomi dari China menunjukkan perbaikan konsumsi dan produksi industri, namun konflik di Strait of Hormuz masih menjadi risiko besar bagi pasar energi dan ekonomi global. Pelaku pasar masih berharap situasi geopolitik dapat dikendalikan, walaupun volume perdagangan yang rendah menunjukkan kehati-hatian pasar.

 

Market Movement

Pasar keuangan Indonesia pada Senin (16/3/2026) mengalami tekanan serentak. IHSG turun 1,61% ke level 7.022, dengan mayoritas saham melemah, dipimpin sektor utilitas, properti, dan bahan baku. Saham yang paling membebani indeks antara lain DSSA, BRMS, AMMN, serta BREN dan BBCA. Di pasar valuta asing, rupiah melemah ke Rp16.985 per dolar AS akibat penguatan dolar global. Penguatan dolar dipicu meningkatnya permintaan aset aman di tengah konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan jalur energi dunia. terakhir sebelum libur panjang Nyepi dan Idul Fitri dengan sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kinerja buruk selama Ramadan 2026 dengan penurunan sekitar 15%, dipicu sentimen negatif seperti perang IranýASýIsrael, lonjakan harga minyak, serta penurunan outlook rating oleh Moodyýs dan Fitch Ratings. Dari sisi kebijakan moneter, pasar menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan penguatan dolar AS dan meningkatnya risiko geopolitik. Pemerintah juga memilih efisiensi anggaran daripada menaikkan harga BBM, meskipun harga minyak dunia meningkat.

 CORPORATE

 

Laba Bersih BBCA Februari 2026 Stabil, CASA Tumbuh Kuat dan Cum Dividen Dijadwalkan 27 Maret

Bank Central Asia membukukan laba bersih bank only sebesar Rp4,2 triliun pada Februari 2026 (0% YoY, -15% MoM), sehingga total laba bersih selama 2M26 mencapai Rp9,2 triliun (+3% YoY). PPOP tumbuh terbatas seiring Net Interest Income yang relatif flat, namun tertopang kenaikan Non-Interest Income terutama dari fee income, di tengah pertumbuhan kredit sekitar 6% YoY. CASA masih tumbuh kuat +13% YoY sehingga Loan-to-Deposit Ratio tetap longgar di 77,6% (Februari 2025: 80,6%). Perseroan juga mengumumkan cum dividen final tahun buku 2025 di pasar reguler dan negosiasi pada 27 Maret 2026, dengan pembayaran pada 8 April 2026.

 

ASII Siapkan Buyback Hingga Rp2 T, Dua Direksi Tambah Kepemilikan Saham

Astra International berencana melakukan buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp2 triliun pada periode 16 Maretý15 Juni 2026. Aksi korporasi ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, sejalan dengan kebijakan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar modal. Secara terpisah, Komisaris Utama Prijono Sugiarto dan Direktur Thomas Junaidi Alim W. melakukan pembelian saham ASII masing-masing sekitar 1,5 juta dan 100.000 lembar pada periode 27 Februariý11 Maret 2026, dengan harga rata-rata sekitar Rp6.289 dan Rp5.900 per saham. Total nilai transaksi keduanya sekitar Rp9,8 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan langsung Prijono Sugiarto meningkat dari 0,0062% menjadi 0,0102%, sementara Thomas Junaidi Alim W. naik dari 0,003% menjadi 0,0032%.

 

SSIA Targetkan Penjualan Lahan Industri 69 Ha pada 2026

Surya Semesta Internusa (SSIA) melalui anak usahanya, PT Suryacipta Swadaya, menargetkan penjualan lahan industri seluas 69 hektare pada 2026, lebih rendah dibanding target 2025 sebesar 137 hektare (realisasi 9M25: 18 hektare). General Manager Binawati Dewi menyampaikan sekitar 60 hektare penjualan ditargetkan berasal dari kawasan industri Subang Smartpolitan, sementara sisanya dari kawasan industri di Karawang. Ia juga menambahkan bahwa harga lahan industri di Subang Smartpolitan naik menjadi sekitar US$150/mý pada awal 2026, dari sebelumnya sekitar US$125/mý sejak 2020.

 

Pendapatan Turun Beban Melonjak, Laba 2025 SMRA Anjlok 44 Persen

SMRA mencatat perolehan pendapatan sebesar Rp8,76 triliun pada akhir 2025, turun 42,8% dibanding Rp10,62 triliun pada 2024. Seiring penurunan pendapatan, beban pokok juga tercatat lebih rendah. Namun demikian, SMRA mencatat peningkatan beban penjualan 11% menjadi Rp570,15 miliar dari tahun sebelumnya Rp513,65 miliar. Kenaikan beban penjualan terutama karena ada peningkatan biaya promosi dan iklan sebesar 11,53% dari Rp320,11 miliar pada 2024 menjadi Rp361,83 miliar di 2025. Demikian juga, beban umum dan administrasi naik menjadi Rp1,25 triliun pada 2025 dibanding tahun sebelumnya Rp1,17 triliun. Peningkatan utama dikontribusikan dari gaji dan kesejahteraan karyawan, serta beban penyusutan. Perseroan mencatat laba usaha Rp2,58 triliun pada 2025, merosot dibanding Rp3,73 triliun yang dibukukan di sepanjang 2024. Laba sebelum beban pajak final dan Pajak Penghasilan mencapai Rp1,62 triliun. Beban pajak final tercatat Rp380,12 miliar dan beban pajak penghasilan bersih Rp37,30 miliar.

 

Saham Cuma Turun 6 Persen, MBMA Jor-Joran Buyback Rp1,7 Triliun!

Emiten pengolah nikel milik kongsi Grup Saratoga dan Garibaldi 'Boy' Thohir, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) menyiapkan dana hingga Rp1,7 triliun untuk melaksanakan aksi pembelian kembali (buyback) saham. Perseroan berencana membeli kembali maksimal 1,8 miliar lembar saham di tengah volatilitas pasar MBMA yang cukup kebal diterpa sentimen global.Saham MBMA pada pantauan perdagangan Senin (16/3/2026) sahamnya menurun 3,5 persen di Rp680, dalam sepekan masih menguat 3 persen, dalam sebulan hanya terkoreksi 6,9 persen, dan sejak awal tahun justru sahamnya menguat 19,3 persen dari Rp570 ke Rp680. Manajemen dalam keterangan resminya yang dirilis Senin (16/3/2026), MBMA menyatakan periode buyback dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan yakni, mulai 17 Maret hingga 16 Juni 2026. Pembelian kembali saham akan dilakukan melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia dengan menunjuk satu perusahaan efek sebagai pelaksana.

 

Untuk mengetahui daftar saham dengan Notasi Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/

 

Adapun daftar saham yang masuk dalam Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

 

Sumber: Emitennews, Investor Daily, Kontan, Detik Finance,  Bisnis Indonesia. 

PT. Lotus Andalan Sekuritas secara default mengirim Daily View, Hot Topics & Opinion dan Market Rumor melalui email kepada seluruh Nasabah. Apabila Bapak/Ibu ingin menerima email ini kembali, klik Subscribe