Global Update
Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Rabu waktu setempat, di tengah aksi jual lanjutan pada saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan. Indeks S&P 500 turun 0,51% ke 6.882,72 dan Nasdaq anjlok 1,51% ke 22.904,58, terutama tertekan oleh saham Advanced Micro Devices (AMD) yang merosot 17% setelah proyeksi kinerja kuartal pertama mengecewakan pasar, menyeret saham chip lain seperti Broadcom dan Micron. Sebaliknya, Dow Jones justru naik 0,53% ke 49.501,30, ditopang penguatan saham bernuansa value seperti Amgen yang melonjak 8% usai laporan kinerja solid dan Honeywell yang ikut menguat. Tekanan juga terjadi pada saham perangkat lunak seperti Oracle dan CrowdStrike, menandakan rotasi dari saham growth ke value masih berlangsung. sentimen pasar dipengaruhi kombinasi data ekonomi yang melemah dan sinyal inflasi sektor jasa yang masih hangat. Laporan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja swasta Januari hanya 22.000, jauh di bawah ekspektasi, menandakan pasar tenaga kerja mulai mendingin dan memperkuat spekulasi perlambatan ekonomi. Namun di sisi lain, PMI Jasa ISM tetap ekspansif di 53,8 dengan lonjakan indeks harga ke 66,6, memberi sinyal tekanan biaya di sektor jasa belum mereda dan bisa membuat The Fed lebih berhati-hati menurunkan suku bunga. Kombinasi pertumbuhan tenaga kerja yang melambat tapi tekanan harga yang masih tinggi ini menciptakan ketidakpastian arah kebijakan moneter, menekan sentimen risiko global, menguatkan volatilitas dolar AS, dan membuat arus modal ke pasar negara berkembangýtermasuk Indonesiaýbergerak lebih selektif.
Market Movement
Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada Rabu (4/2/2026), dengan IHSG menguat tipis 0,3% ke level 8.146,72 meski tekanan jual masih mendominasi dan investor asing membukukan net sell Rp1,44 triliun. Kenaikan indeks terutama ditopang saham-saham perbankan besar, sementara sentimen pasar masih dibayangi reformasi pasar modal domestik serta keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks Indonesia. Di sisi lain, rupiah justru melemah tipis ke Rp16.765 per dolar AS meskipun indeks dolar global melemah, menandakan tekanan lebih banyak berasal dari faktor domestik dan arus keluar dana asing. Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun turun ke 6,29% yang menunjukkan minat beli investor meningkat. Pelaku pasar kini menantikan data ekonomi AS serta arah kebijakan The Fed, yang akan sangat menentukan pergerakan aset berisiko termasuk pasar keuangan Indonesia. Fokus utama tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 oleh BPS yang diperkirakan menunjukkan akselerasi, Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan OJK, rapat kerja Menteri Keuangan dengan DPR, paparan kinerja Bank Mandiri, serta perhatian pasar terhadap implementasi aturan free float minimum 15% oleh BEI yang berpotensi memengaruhi likuiditas dan struktur pasar saham.
CORPORATE
Merdeka Copper Gold Rilis Guidance 2026: Lonjakan Produksi Emas, Tembaga Turun Tajam
Merdeka Copper Gold menyampaikan outlook produksi 2026 yang masih menunggu persetujuan RKAB. Perseroan menargetkan produksi emas sebesar 180ý205 ribu ons, melonjak 74ý99% secara tahunan. Kontribusi utama berasal dari Merdeka Gold Resources ($EMAS) sekitar 100ý115 ribu ons (dibandingkan nihil pada 2025), sementara produksi dari tambang Tujuh Bukit diproyeksikan 80ý90 ribu ons, turun 13ý22% YoY. Di sisi lain, produksi tembaga diperkirakan hanya mencapai 4ý5 ribu ton, melemah 51ý61% dibanding tahun sebelumnya. Untuk biaya produksi, cash cost blended emas dipatok di kisaran US$1.010ý1.167 per ons, dengan EMAS di level US$900ý1.100 per ons dan Tujuh Bukit sekitar US$1.150ý1.250 per ons. Sementara itu, cash cost blended tembaga diproyeksikan berada pada rentang US$2,8ý3,5 per pon.
Merdeka Battery Materials Rilis Guidance 2026: Lonjakan Produksi Limonit & Nickel Matte, Output NPI Relatif Stabil
Merdeka Battery Materials merilis panduan kinerja 2026 yang masih menunggu persetujuan RKAB. Perseroan menargetkan produksi saprolit sebesar 8ý10 juta wmt, tumbuh 14ý43% secara tahunan, dengan cash cost blended di bawah US$21 per wmt. Sementara itu, produksi limonit diproyeksikan mencapai 20ý25 juta wmt, melonjak 36ý70% YoY, dengan guidance biaya produksi di bawah US$11 per wmt. Untuk produk hilir, output NPI diperkirakan berada di kisaran 70ý80 ribu ton Ni, relatif datar dibandingkan 2025 (-5% hingga +8% YoY), dengan cash cost blended di bawah US$10.500 per ton Ni. Produksi nickel matte ditargetkan meningkat signifikan menjadi 44ý48 ribu ton Ni (+120ý140% YoY), dengan estimasi biaya di bawah US$13.500 per ton Ni. Selain itu, produksi MHP melalui PT ESG New Energy Material diproyeksikan mencapai 27ý30 ribu ton Ni, naik 8ý20% YoY.
IMPC Bidik Laba Bersih >Rp700 M pada 2026, Target Pendapatan Rp5,1 T
Direktur Utama Impack Pratama Industri, Haryanto Tjiptodihardjo, menyampaikan bahwa perseroan menargetkan laba bersih melampaui Rp700 miliar pada 2026, seiring proyeksi pendapatan sebesar Rp5,1 triliun. Ia juga menegaskan bahwa target kinerja 2025 telah tercapai, dengan estimasi laba bersih sekitar Rp600 miliar dan pendapatan Rp4,2 triliun. Hingga saat ini, IMPC belum mempublikasikan laporan keuangan kuartal IV 2025.
Pakuwon Jati Bukukan Marketing Sales Rp1,3 T di 2025, Capai 96% Target Revisi
Pakuwon Jati membukukan marketing sales sebesar Rp398 miliar pada 4Q25, turun 7% secara tahunan namun melonjak 33% dibanding kuartal sebelumnya. Dengan capaian tersebut, total marketing sales sepanjang 2025 mencapai Rp1,3 triliun, terkoreksi 16% YoY namun setara 96% dari target revisi 2025 sebesar Rp1,35 triliun. Sepanjang 2025, kontribusi terbesar berasal dari segmen apartemen atau condominium sebesar 61%, disusul rumah tapak 38%, serta perkantoran 1%. Selain itu, sekitar 63% marketing sales berasal dari produk yang memenuhi kriteria insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Alam Sutera Bukukan Marketing Sales Rp2,44 T di 2025, ASRI Targetkan Pertumbuhan 15% pada 2026
Alam Sutera Realty mencatat marketing sales sebesar Rp338 miliar pada 4Q25, turun tajam 61% YoY dan 52% QoQ. Dengan capaian tersebut, total marketing sales sepanjang 2025 mencapai Rp2,44 triliun, melemah 23% secara tahunan dan setara sekitar 70% dari target 2025 sebesar Rp3,5 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen residensial yang menyumbang sekitar 70%, sementara sisanya berasal dari segmen komersial. Untuk 2026, ASRI menargetkan marketing sales sebesar Rp2,8 triliun, mencerminkan potensi pertumbuhan sekitar 15% YoY dibanding realisasi 2025. Perseroan memperkirakan segmen residensial akan menjadi motor utama dengan kontribusi sekitar 82%, sedangkan porsi selebihnya berasal dari segmen komersial.
Untuk mengetahui daftar saham dengan Notasi Khusus dapat dilihat melalui link berikut:
https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/
Adapun daftar saham yang masuk dalam Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dapat dilihat melalui link berikut:
https://www.idx.co.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/
Sumber: Emitennews, Investor Daily, Kontan, Detik Finance, Bisnis Indonesia.